Iklan

Mitra Usaha Indonesia
Jumat, 28 Februari 2025, 09.58 WIB
Last Updated 2025-02-28T02:58:42Z
News

Sektor Jasa Keuangan Banyumas Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global


PURWOKERTO – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, sektor jasa keuangan di wilayah eks Karesidenan Banyumas tetap stabil dan bertumbuh. Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto, Haramain Billady, mengungkapkan bahwa hingga Desember 2024, kondisi sektor keuangan menunjukkan tren positif, terutama di sektor perbankan.  

"Sampai akhir 2024, kami melihat sektor jasa keuangan di Banyumas tetap terjaga stabil dan bertumbuh, meskipun tantangan ekonomi global masih cukup besar. Hal ini terlihat dari indikator-indikator keuangan yang mencerminkan kinerja positif, terutama di sektor perbankan," ujar Haramain Billady.  

Kinerja Perbankan Meningkat
  
Berdasarkan data OJK Purwokerto, kinerja perbankan yang mencakup bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR/S) mengalami pertumbuhan. Dari sisi aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan kredit, terjadi kenaikan masing-masing sebesar 4,65% (yoy), 7,11% (yoy), dan 10,80% (yoy).  

Bank umum di wilayah kerja OJK Purwokerto mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 1,91% (yoy), DPK 6,21% (yoy), dan kredit 11,29% (yoy). Sementara itu, BPR/S menunjukkan pertumbuhan aset dan DPK yang lebih tinggi, masing-masing sebesar 16,11% (yoy) dan 7,77% (yoy), meskipun penyaluran kredit mengalami sedikit penurunan sebesar 0,06% (yoy).  

"Kami melihat tren pertumbuhan yang cukup baik, terutama pada bank umum yang terus memperkuat permodalan dan meningkatkan penyaluran kredit. BPR/S juga mengalami pertumbuhan, meskipun ada tantangan pada kualitas kredit," tambahnya.  

Tantangan dan Risiko Kredit
 
Meskipun secara umum menunjukkan pertumbuhan, sektor BPR/S menghadapi tantangan dalam hal risiko kredit. Tingkat intermediasi (Loan to Deposit Ratio/LDR) masih cukup tinggi di angka 77,33%. Namun, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) meningkat menjadi 17,76% dari sebelumnya 14,14% pada Desember 2023.  

Peningkatan NPL ini disebabkan oleh normalisasi kredit restrukturisasi akibat pandemi Covid-19. Sejumlah debitur yang sebelumnya mendapatkan stimulus kredit restrukturisasi mengalami kesulitan dalam mempertahankan usahanya setelah masa restrukturisasi berakhir.  

"Kami terus mendorong perbankan, terutama BPR/S, untuk meningkatkan manajemen risiko dalam penyaluran kredit. Kami juga mengimbau agar dilakukan langkah-langkah mitigasi guna menekan risiko kredit bermasalah," kata Haramain Billady.  



Fokus Penyaluran Kredit
 
Sebagian besar penyaluran kredit/pembiayaan oleh BPR/S di wilayah kerja OJK Purwokerto masih didominasi oleh kredit produktif, khususnya kredit modal kerja yang mencapai 54% dari total kredit. Kredit ini juga banyak mengalir ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang mencakup 58% dari total kredit/pembiayaan.  

Sektor usaha yang paling banyak menerima kredit dari BPR/S adalah sektor perdagangan besar dan eceran serta sektor bukan lapangan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa perbankan tetap berperan aktif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, terutama di sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi di Banyumas.  

"Kami berharap perbankan terus memperkuat dukungan terhadap UMKM, karena sektor ini berperan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah," tutup Haramain Billady.  

Dengan pertumbuhan yang stabil dan tantangan yang tetap terkelola, sektor jasa keuangan di Banyumas diyakini mampu bertahan dan terus berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi global.